Selasa, 12 Januari 2010

Menuju Kemandirian Teknologi Alat Berat Indonesia

Perkembangan teknologi di era globalisasi semakin pesat. Manusia terus berinovasi dan berkreasi untuk mengembangkan teknologi yang lebih canggih dan lebih memudahkan kerja manusia. Teknologi terus disempurnakan dan telah merambah berbagai ranah bidang kehidupan. Teknologi dalam hal produksi, distribusi, komunikasi, dan informasi dikembangkan. Perkembangan tersebut tak lain untuk lebih mengefektifkan dan mengefisiensikan tenaga manusia.
Salah satu perkembangan teknologi yang berperan besar dalam menggeser peradaban manusia menuju zaman modern sekarang ini adalah teknologi alat berat. 5 dekade lalu, manusia membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengeruk atau menggali tanah. Kini, dengan kemajuan teknologi alat berat, manusia hanya butuh beberapa jam untuk menyelesaikannya. Teknologi alat berat berperan dalam banyak bidang kehidupan. Industri, pertambangan, pertanian, perkebunan adalah beberapa contoh bidang kehidupan yang sangat terbantu oleh kemajuan dan perkembangan teknologi alat berat. Teknologi alat berat bisa dikatakan memegang peranan yang cukup vital dalam pengolahan dan pendayagunaan sumber daya alam.
Negara-negara maju berlomba-lomba untuk mengembangkan teknologi ini. Amerika, terkenal dengan Caterpillarnya. Jepang dengan Komatsu, Hitachi dan Kobelco. Korea dengan Hyundai dan Doosan. Jerman dengan Wirtgen Groupn. Italia, tak mau kalah dengan New Hollandnya. Begitu pula China. Negara terakhir ini juga meramaikan pasar teknologi alat berat degan merk Liu Gong dan Shantui. Dan masih banyak negara lain yang tak mau kalah. Negara-negara tersebut kemudian menjual produknya ke negara-negara yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah, yang kebanyakan adalah negera-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lalu, Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia masih setia dengan titel "Konsumen Teknologi Alat Berat".
Coba anda berjalan ke sebuah proyek. Atau sekedar melintasi jalan yang sedang diperbaiki, atau pun melintasi gedung yang sedang dibangun. Anda akan menemukan alat-alat berat dengan merk yang disebutkan di atas. Kemana produk Indonesia?
Sebagai gambaran, pasar alat berat nasional pada kuartal IV tahun ini, diprediksi menguat menjadi sekitar 900-1000 unit per bulan. Jumlah ini diprediksi semakin meningkat di tahun 2010 seiring dengan keadaan ekonomi nasional yang kian membaik. Jika dirata-ratakan setiap bulan 1000 unit, maka dalam setahun penjualan alat berat nasional mencapai 12.000 unit!! Dari 12.000 unit per tahun tersebut, produk-produk asing masih mendominasi pasar alat berat nasional.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan manusia. Dengan pendayagunaan dan pengolahan sumber daya yang dilakukan secara optimal, kesejahteraan bukanlah hal yang sulit dicapai oleh negeri ini. Teknologi alat berat memegang peranan yang cukup besar dalam dunia industri, pertambangan, pertanian, dan perkebunan. Dengan kemandirian teknologi Indonesia, khususnya di bidang alat berat, akan memberikan nilai positif yang lebih besar dalam pengolahan dan pendayagunaan sumber daya tersebut.
Suatu saat nanti, ketika kita melihat alat-alat berat, kiat akan bangga menyebut "itu produk Indonesia lho..."
Can we do it!!!
Yes, We can..
Kita pasti bisa...
!!!

2 komentar:

Akmad Assad mengatakan...

coba lihat artikel saya.. industri-indonesia.blogspot.com

Akmad Assad mengatakan...

industri indonesia salah arah lihat saja contohnya produk manufaktur dari elektronik hingga alat berat tidak ada asli buatan indonesia 100 persen.. lihat artikel saya http://industri-indonesia.blogspot.com